Minggu, 23 Maret 2008

Budidaya Ikan dan Rumput Laut di Kepulauan Seribu Makin Berkembang

Sumber : http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/usaha/2004/0703/ukm4.html

JAKARTA – Gugusan pulau yang terletak di Jakarta Utara, ternyata menyimpan potensi usaha di bidang kelautan misalnya budidaya ikan dan rumput laut. Di Pulau Panggang yang masuk dalam Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Pulau Seribu Utara, terdapat 20 kelompok petani yang membudidayakan rumput laut.

Hasil produksinya, menurut Kepala Suku Dinas Perikanan Pemkab Kepulauan Seribu, Sutrisno mencapai 100 kilogram hingga dua ton. Menurut salah seorang anggota Kelompok Petani, Amin (70) tahun kepada SH Selasa (15/6), dia membudidayakan rumput laut ini semenjak tujuh tahun belakangan ini atau dimulainya sekitar tahun 1997 lalu.

Usaha budidaya rumput laut ini, menurutnya, sebagai pengganti usaha menangkap ikan apabila ikan yang ditangkap oleh nelayan sepi. “Kalau pencarian ikan sedang susah, ya kita punya usaha alternatif,” katanya.

Kapasitas produksi rumput laut yang dibudidayakan mencapai satu kwintal atau 100 kilogram sekali panen. Dari bibit rumput laut hingga siap dipanen, hanya dipelihara selama empat bulan.
Tetapi itu tergantung dari kondisi perairan laut. “Apabila kondisi air laut bagus maka panen sekitar empat bulan. Tapi kalau sedang jelek bisa lebih dari empat bulan,” katanya.

Beberapa bulan belakangan ini, menurutnya, produksi rumput lautnya sangat sedikit, bahkan jauh di bawah kapasitas produksi normalnya yang mencapai satu kuintal karena kondisi air laut yang kurang baik.

“Kondisi air laut yang kurang bagus juga bisa disebabkan karena sampah yang bertebaran di laut maupun yang berasal dari warga pulau Panggang,” ungkapnya.

Hasil panen rumput laut ini, dijual Amin hanya Rp 500-1000 per kg dalam kondisi basah sedangkan kalau kondisi kering bisa mencapai di kisaran Rp 4.000 – 5.000 per kg. Karena hasil budidaya rumput laut yang menurun belakangan ini, Amin terpaksa harus melaut atau menjadi nelayan tangkap.

Di Perairan Pulau Panggang juga terdapat kompleks nelayan modern yang cukup luas milik Hendrik. Kompleks nelayan modern ini, membudidayakan ikan kerapu Macan dan Bebek yang harga ekspornya mencapai Rp 380.000 per kg untuk kerapu bebek dan Rp 180.000 untuk kerapu macan.

Keramba Apung

Budidaya ikan kerapu juga bisa ditemui di perairan Pulau Kelapa dan Harapan. Menurut pengamatan SH, sedikitnya ada sekitar 7-8 keramba apung di perairan kedua pulau ini. Ikan yang dibudidayakan juga tidak jauh berbeda dengan yang ada di perairan Pulau Panggang.

Menurut Berry, salah seorang nelayan keramba apung, ikan yang dipeliharanya adalah jenis kerapu macan. Memelihara ikan kerapu macan ini membutuhkan waktu hingga setahun dari bibit berukuran dua hingga lima centimeter.

Kapasitas produksinya untuk sekali panen, tambah Berry, mencapai satu kwintal. Untuk ikan kerapu macan yang dipeliharanya memang tidak diekspornya atau hanya untuk konsumsi pasar domestik saja. Namun, harga perkilogram-nya memang menggiurkan sebesar Rp 60.000 per kg.

Bibit ikan kerapu macan, menurut Berry, didapatkan dari Bali seharga Rp 1.000-2.000 per centimeter. Ikan tersebut akan dijual setelah ukuran berat mencapai setengah hingga satu kilogram per ekor. Masa panen ikut kerapu macan, menurutnya, tergantung dari air lautnya juga. Apabila air lautnya mengandung banyak oksigen dan plankton yang menjadi pakan ikan, dalam jangka waktu 12 bulan ikan sudah siap panen.

Sementara, budidaya rumput laut dan ikan kerapu ini, menurut Sutrisno —salah seorang nelayan— dikembangkan agar warga Kepulauan Seribu yang 70 persen notabene mata pencahariannya adalah nelayan bisa lebih maju.


Pernyataan senada juga disampaikan oleh Wakil Bupati Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Djoko Ramadhan. Pihaknya kini tengah mendorong warga untuk mengembangkan sea farming atau pertanian laut.

Sea farming ini menurut Djoko, berupa budidaya rumput laut dan budidayaiIkan dalam keramba apung maupun keramba tancap. Konsep sea farming ini sendiri menurutnya dikembangkan karena potensi perairan Kepulauan Seribu yang sangat mendukung konsep ini.

Pelaksanaan konsep sea farming ini sendiri, menurut Djoko, jug akan dikembangkan di Pulau Semak Daun yang letaknya tidak berjauhan dengan Pulau Panggang dan Pulau Pramuka. Mengapa dipilih pulau Semak Daun, menurutnya, karena Pulau Semak Daun. Luas pulaunya hanya setengah hektar namun perairan sekitarnya dangkal atau lebih dikenal dengan daerah gosong yang sangat luas yaitu sekitar 315 hektare.

Pemkab Kepulauan Seribu sendiri,menurutnya, tengah mengkaji perairan pulau Semak Daun untuk kelayakan budidaya rumput laut dan ikan kerapu. “Kami tengah mengkaji,” kata Djoko.

(SH/thomas bernadus)

Tidak ada komentar: